2 x 8760 jam
2 x sekian juta menit…2 x sekian puluh juta detik…
Sekian juta tawa terumbar… sekian juta senyum terpulas…sekian juta celotehan terucap…
…. dan hanya beberapa tetes airmata terjatuh…
Hingga pintu terbuka, cahaya masuk–pelangi turun di atap tembok rumah keraton… seperti di dalam kisah kisah legenda, di ujang pelangi ada guci berisi uang emas… kukira…
Dan semua ternyata palsu. Yang dikira uang emas ternyata hanya uang kepeng yang tidak patut untuk dibelikan makanan hati. Bohong. Palsu. Kebodohan tingkat tinggi untuk dipercayai.
Saat ini…merupakan sebuah kesombongan untuk mengungkap dan mengakui:
Bahwa hati sejujurnya banyak teriris.
Bahwa kantung airmata hampir penuh karena tak pernah dikeluarkan
Bahwa sesungguhnya karma pembalasan masih diharap.
Bahwa sesungguhnya tingkah laku akal pikiran perlu introspeksi…
BAHWA AKU MARAH.
Marah sekali.
…
Ah.. seandainya …
Bijak itu kupunya.
Licik itu tidak dosa
Iklas itu ada di dalam hati…
Tetap..
TAK TAHUKAH BETAPA BESAR DOGMA DAN PRINSIP DIRI TELAH KUINJAK UNTUKMU!
…( betapa semburat aura sudah lebih rendah dari karpet rumahan …)
Tak tahukah….
bahwa tertawa kadang palsu, canda kadang hambar, terkadang otak trus terpikir … bagaimana bisa lewati sekitar 1,5 juta detik dengan segala senyum kepalsuan dan pelarian., padahal hati dan otak sibuk merasa sakit, berkerut, seperti kulit kalau terendam air. Tapi yang ini terendam air kebohongan. Kebodohan. Sayang, kuakui, aku memang bodoh…..
INILAH HIDUP.
Sejujurnya.
Pahit, manis, asam. Semua ada dan semua harus merasa. Agar adil. Terkadang, mahluk yang satu mendapat asam lebih banyak dari yang lain. Atau mendapatkan asam dan asin bersamaan, seperti permen nano nano.
Tapi kenyataanya, semua mahluk hanya ingin permen manis…..
Padahal manis yang berlebihan juga tak baik, gigi bolong, kepala sakit, pada akhirnya hati ikut ngilu..
Mahluk yang satu harus bisa pasrah kalau sakit gigi, pasrah kalau harus menelan pil pahit serta rasa kecut yang tak tertahankan dan hanya bisa bikin kita diam. Diam, Like now!! How ironic!
Ramadan, seharusnya jadi momentum. MOMENTUM untuk memaafkan, iklas, pasrah, terutama saat rasa asam lebih banyak dari rasa manis. Saat di pojok keraton menemukan guci berisi uang kepengan dan bukannya uang emas. Saat merasa tertipu.
Namun sulit.
Ternyata sekedar bergumam sampai mulut berbusa tidak—belum –banyak membantu. Itu bukan doa. Itu pamrih!
Diperlukan cahaya lain. Cahaya hati. Diperlukan keajaiban ramadan yang hanya bisa didapat dengan keridhoan hati, kerelaan. Dan satu kata : LUPAKAN. Iklaskan itu, apapun, bagaimanapun….
(Hah! betapa mudahnya berkata sepeti itu…)
Tuhan, aku masih butuh ramadan……. Ampuni aku…Doakan agar aku masih tetap bisa bersujud, kembali ke ramadan hingga tahun depan. Dan semoga bulan bulan berikutnya …..tingkah laku tetap berbudi, mulutku tak berbusa hanya untuk rasa pamrih, melainkan benar benar iklas.
Dan akhirnya suatu hari, aku akan berani berharap, berani buka pintu dan jendela rumah…
Bahwa suatu saat akan ada pelangi… di ujungnya ada guci isi uang emas. Bukan uang kepeng.
Uangnya akan kupakai untuk beli makanan hati, yang kumasak dengan api rasa kehangatan, dan kuhidangkan untuk dilahap bersama…..
(sadar bahwa marah itu bukan–dan tidak boleh–menjadi bagian dari puasa, namun mendengki, mendendam juga bukan, pemikiran di atas hanya sebagai terapi pikiran untuk menghilangkan efek negatif –dendam, dengki–dari cerita masa lalu)