Kemarin saya mendapat kesempatan berharga lagi…
Sore-sore pulang kerja… masih di dalam taksi,tiba-tiba saya mendapat ide buat mampir ke daerah ‘kongkow’ anak
Jakarta
… Akhirnya saya pun mutusin buat mampir ke sebuah toko buku, beli sebuah, trus dengan santainya duduk di
sana
…niat saya sih, membaca buku sambil menikmati suasana tranquil yang ada disana…
15 menit setelah membaca, tiba-tiba datang seorang perempuan yang – suer—punya aura… jujur, dia tidak cantik luar biasa, atau bermake-up tebal—istilah salah satu sobat saya—dandannya jeder! But she has something, definitely…
5 menit kemudian, cewek cantik itu duduk pas dihadapan saya dan… mulai membaca buku yang sama! Dalam hati sempat bangga juga , hehehehhe bukunya kembar nih ye…
Gak dinyana, si manis trus menyapa saya” lagi baca juga ya?” Singkat cerita, kami pun terlibat percakapan asik mengenai buku tersebut, tentang kapitalisme (gak enak lah saya sebutin pengarang and judulnya… entar dikira jualan lage.).
Percakapan pun brlanjut dengan menceritakan mengenai diri masing-masing, saya cerita mengenai sekolah saya, pendididkan, my degrees, kerjaan….. pada saat cerita tentu dengan bumbu sedikit, sambil berbangga hati
Man! Setelah berkenalan dengannya, suer, saya merasa ’malu’ sekali… Pertama melihat saya mengira si cewek ini—sebut saja namanya Laras—sebagai seniman: rambut panjang lurus bukan rebonding, baju hitam-hitam dengan kalung 60-an, di tangannya pake manik
India
, anting 3 buah di masing-masing telinga…ternyata…
Laras bekerja di salah sebuah konsultan keuangan terbaik di dunia.Pertama-tama sih gak percaya, cuman setelah melihat kartu namanya yang sama bentuk, font dan cetakannya dengan kartu nama dari perusahaan sejenis, saya pun percaya.
Dia lulus S1 dari salah satu sekolah ‘engineering’ terbaik di
USA
, jurusan astrofisika (man!), dan melanjutkan ke S2 ke salah satu sekolah terbaik di Eropa, MBA. (kalo yang dua ini saya susah nge-ceknya)
Laras pun cerita mengenai pengalamannya menolong refugee waktu jadi relawan sebuah organisasi internasional, mengenai kegiatanya jadi ibu asuh waktu jadi relawan ke Alor (Laras tidak pergi ke Aceh karena katanya ’sudah terlalu banyak relawan di
sana
’). Kegiatannya jalan-jalan jadi backpackers ke eropa dan
asia
. Saat bicara soal dunia kesenian (taela..) Laras ternyata tidak kalah dengan saya (ehm, saya penari tulen lho!), dia pernah belajar Legong Bapang di Bali, trus pernah belajar Flamenco di Barcelona, sempet kursus serampang dua belas, dll.
Dan tentu saja… kita bicara soal cowok
ehm…
Kami sama-sama single (yeah right! dalam hati saya). Laras—yang punya keturunan bule dari Bapaknya—ternyata suka sebel kalau dideketin cowok yang tertarik dengannya hanya karena dia mancung… padahal saya sih pengen banget jadi mancung :p
Intinya sih, Laras merasa bahwa pria-pria jaman sekarang (taelaa…) lebih tertarik dengan ‘kulit luar’.. ketimbang isi dalamnya. Mereka lebih tertarik ‘mengantarkan saya belanja ketimbang menemani saya ikutan bedah buku di toko buku ini, atau datang ke pameran lukisan’ kata Laras dengan berapi-api…. Saya sih cuman bisa berujar ’no comment aja deh mbakyu..’
Setelah terlibat percakapan seru selama sekitar 1,5 jam, kami pun berpisah.. ‘Tebengan’ saya datang, dan Laras mesti pulang karena dijemput sang adik “satu-satunya pria yang bersedia menjemput saja di toko buku, hahahah”
Sepanjang jalan pulang saya berpikir aja mengenai Laras, bahwa di atas langit selalu ada langit, saya yang selama ini suka agak kelewatan pedenya, jadi malu setelah melihat Laras, yang begitu muda (she’s only 4 years older thank me) tapi sudah punya banyak pengalaman… Satu yang saya belajar banget dari dia dan akan saya ingat terus perkataannya:
“Turi, live your life to the fullest girl! Jalananin hidup dengan berjalan, jangan terseok-seok… and along the way.. cintailah segala sesuatu atau seseorang yang menurut kamu patut untuk dicintai…”
PS:
Kemarin saya melihat iklan sebuah kontes kecantikan di televisi, kira-kira dari seluruh finalis yang ada, ada yang sepintar dan secantik Laras tidak ya?