Guess-guess Crunchy (tebak-tebakan garing…)

Kentang apa yang disukai anak bayi?

Kentang ting ting ting tang ting tung…..

 

Ada 3 anak, hanya mampu beli 2 choki choki… namun mereka bisa dapat 3 choki choki, yang satu choki choki lagi dari siapa?

SATU LAGI DARI MAYORA

 

Putih, hitam, merah?

Zebra masuk angin abis kerokan

 

Putih, hitam, kemerahan, pakai 4 roda?

Zebra abis berjemur main roller skate

 

Siapakah nama asli Ibu Kartini?

Harum. “ …Putri Indonesia, Harum namanya…”

Published in: on November 24, 2008 at 10:29 pm Comments (0)

Gong Li and Smelly 5h1tty

Gong Li and Smelly 5h1tty

Just read today’s newpaper. And two issues came up: first, Gong Li switch her citizenship to Singaporean. There has been hot debate over her switch, About her being a “chinese traitor”. but to me, it is her life, her own choices. There’s nothing to shout about it.
For me, it’s a good thing. Yuppie. Maybe next time I go to Orchard road I will have a chance to rub shoulder with a Hollywood’s actress!
But wait, I hardly ever see a Singapore artist, even a Gurmit Singh during my trips to Orchard. So the possibility to see her is also small laa.. Maybe she prefers to shop in Rodeo Drive or Saks 5th Avenue than Orchard Road.

Second thing I read was that……Odour print can be used to identify people. I was like? Huh? So maybe when this technology exists I will be known as “Smell-N1C3*” instead of Turike. Or the lady that mopped the apartment every morning will be known as “Smell-5h1tty
The research stated it is because “every person has a unique fragrant similar to a fingerprint or DNA sample” The research has been done to mice by a Lab in the States.
For me, it doesn’t need a research laa.. Whenever the foul-smell mopper lady in my apartment building came to mop each morning, I know already it’s her even from a zillionth kilometre away… That can also be called odour-print right?

Published in: on November 13, 2008 at 7:53 am Comments (0)

The efficiency of Singapore

I grew up in a place where respect and courtesy is a must. “Respect others how you want to be appreciated” As my momma always said. I remember my European friends always said Indonesians are “courteous, a bit slow but always in smiley mode”.

 

So when I first arrived here in Singapore, I was having a bit of culture shock. Singaporeans are very efficient, professional people. So efficient, they’ll do anything to keep it up. That’s why; you’ll hardly see a customer’s service smiling, or a taxi driver making chit chat before the trip. Because that’s just damn inefficient! To some people that’s OK, but to others, it can be a sign of lack of courtesy.

 

Forget MRT passenger giving away seats to the elderly or to a pregnant lady (Been there, done that…) that’s just inefficient…

 

Forget people give spaces to a mommy with a stroller in an elevator that opens only 4 second. That’s inefficient.
Forget getting a smile on someone’s face, either a taxi driver, a resto manager, a customer service, a store clerk. That’s just damn inefficient!!!

 

Maybe, Indonesia should learn from Singapore. We have to turn our always-smiley-faces to efficiency….
Published in: on at 7:52 am Comments (0)

We’ve only just begun…

We’ve only just begun to live, White lace and promises

A kiss for luck and we’re on our way.

And yes, We’ve just begun.

Before the rising sun we fly, So many roads to choose

We start our walking and learn to run. And yes, We’ve just begun.

Sharing horizons that are new to us, Watching the signs along the way, Talking it over just the two of us, Working together day to day Together.

And when the evening comes we smile, So much of life ahead

We’ll find a place where there’s room to grow, And yes, We’ve just begun.

Published in: on July 23, 2008 at 6:23 am Comments (0)

Sekedar Parodi

Semalam saya dan misua (baca: suami) nonton Film judulnya: Meet the spartans…. Mestinya sih bertiga tapi teman saya yang satu endak datang :( . Wuah filmnya lucu tenan. Sebetulnya sih film itu merupakan film parodi dari beberapa film, mirip2 Scary Movie. Di indo sendiri kayanya jarang ya film spt itu, paling kemarin saya sempet liat ilan judulnya Film Horror, yg parodi beberapa film horror indo. Tapi saya juga endak tau apakah film itu akhirnya diputar atau tidak karena suhda keburu berangkat ke Sing.
Kembali ke Meet The Spartan (MTS), di film ini semua hal yang sedang ngetop di Amerika diparodikan, mulai dari Britney spears dengan gaya bodohnya, Paris Hilton dengan gaya girlishnya, sampai Paula Abdulnya American Idol yang kadang2 suka memberikan pujian gag jelas selama jadi juri. Terakhir niy, setelah filmnya selesai dan end credits ditayangkan, ada lagi parodi tentang George Bush, dimana diakhir parodi tadi si president didorong ke dalam Jurang. Wuaaaaahhh, berani juga ya yang membuat.  Pendapat saya sih, film seperti ini cukup lucu dan cocok buat bahan berhaha hihi gag usah mikir lah nontonnya.
Mungkin kalau di indonesia dibuat film seperti ini, wuaaaaah banyak banget yang bisa diparodikan. Mulai dari pemerintah sampai rakyatnya. Salah satu acara TV yang paling mirip dengan tipe film ini -parodi- mungkin program News dot com, yang dulu bernama Republik Mimpi. Itu juga pernah kena "sentil" sedikit. Dan pastinya, laku. Daripada nonton hiburan sinetron yang bintangnya itu2 juga, atau acara lomba nyanyi-lawakan yang berjam2 di satu TV swasta, mending ketawa2 nonton parodi bukan?
Hayo, siapa yang mau membuat filmnya, mungkin mas-mas embak2 sutradara Indonesia yang sedang ngetop mau ?? Biar tidak hanya ribut2 dengan Lembaga Sensor film….heheheeh
PEACE!!!

Published in: on March 3, 2008 at 11:10 pm Comments (0)

….ada sajadah panjang terbentang
dari kain yang ….
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati

ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
diatas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi

mencari rezeki mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba

ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan rukuk
hamba sujud dan lepas kering hamba
mengingat Dikau sepenuhnya

From : Sajadah Panjang, by BIMBO dan Taufiq Ismail…

*merinding membaca liriknya*

Sekali-kali nulis kaya gini ya, gag apa kan? Biar ingat Tuhan, gag terus-terusan mencela orang lain dan gag mensyukuri ni’matnya…

Have a nice weekend!!

Published in: on February 29, 2008 at 8:29 pm Comments (0)

Enak ya tinggal di Singapore….

Enak ya…. tinggal di Singapore… Begitu pasti kata orang2 yang ketemu baru-baru ini… Kenapa kok enak, tanyaku balik?

Ya, kan deket orchard road, ada MRT, bersih, teratur..Udah gitu tinggalnya di apartemen kan? Mana ngikut suami lagi…

Dalam hati saya suka cengar cengir… hehehehhe, belom tau dia…

Memang sih, setelah tinggal beberapa lama di Sing, saya memang menikmati atau setidaknya ‘berusaha’ menikmati tinggal di sini…. Namun jangan salah loh, tinggal di Singapore mungkin tidak ’senikmat’ yang dibayangkan kalau kita sudah tau. Tinggal dimanapun, kalau emang bukan ‘omah sendiri’ pasti terasa berbeda…

Memang, Singapore identik dengan Orchard — kita sebut ocet biar gampang ehehhehhe…Tapi terus sampai sana ngapain? Walaupun ocet merupakan Avenue yang panjanggggg berisi pusat perbelanjaan, tapi jujur aja gag ada mall yang ngalahin spektakulernya Senayan City atau PS (Plaza Senayan and bukan Pasar Senin yaaa…)… atau tempat nongkrong seperti PIM dan Citos.. Apalagi gag ada ‘tontonan’ seperti di tempat2 yg saya sebutkan tadi.. maksudnya ABG indo atau anak kuliahan yang berdandan cihui2… Ada juga embak2 Singapore yang ceking2 (no harm yah buat yg emang ceking) dan… gag menarik deh!

Terus penduduk Sing memang rata2 hidup di apartemen (condo) atau rumah susun (HDB), cuman beda sama kompleks apartemen di Indo dimana kita masih kenal tetangga sebelah, ada arisan, ada pertemuan penghuni….Wuah, tetangga di sini mah beda banget. beberapa hri yang lalu saya sempet ketemu tetangga sebelah rumah saya pas dia pulang kantor.. saya senyum, dia bales senyum sepet, saya baru mau tanyakan apa kabar , eh dah keburu banting pintu… yah… nasib, kacang deeeeee…

Selain itu, disini tenaga kerja kan mahal, sehingga, mau punya mbok inem? forget it. Artinya, nyuci baru, setrika, masak, bersih2 rumah, semua kudu sendiri. Padahal di Indo kita bisa punya mesin cuci baju dan piring yang bisa membawa piring dan baju bersih sampe ke lemari… eheheheh, canda deh…

Bedanya juga dengan di Indo, tentu soal harga. Harga belanja bulanan (grocery), shopping, makanan, cukup mencekik. Awal2 datang saya suka mengkurs harga2 ke Rupiah, yang bikin saya suka mau pingsan kalau belanja. Sekarang ini sih saya gag berani ngekurs lagi, takut pingsan lagi. Makanan juga gitu. gag ada deh pisang goreng pinggir jalan 200 rupiah perbutir, yang ada cuman mantau 1 SGD, itu juga nyarinya di hawker dan resto.

Kalau mendadak laper dimalam hari, wuaaaaahhh sia2 nunggu nasi goreng dok2, tek2, atau siomay…… paling apes manasin makanan tadi siang, kalo pas gag masak, atau kehabisan makanan, ya nasibbbbbbbbbbbbbbbbb deehhhhhhh Itu baru sebagian cerita2 hidup di sini.

Kalau kenalan dengan temen2 saya yang pramugari, wuahhhh bisa ada ratusan cerita ttg tidak menyenangkannya berhubungan dengan orang asli sini. Singapore mungkin tempat yang menyenangkan buat tempat wisata, cuman untuk hidup, yah, tergantung kitanya. Saya sih enjoy aja, semuanya saya nikmatin, pedes, pait, nikmat…apalagi ada suami yang menemani :)Walau tentu saja, saya tetap rindu nasi goreng dok-dok  dan pisang goreng jalanan jakarta :)) hehehehe…..

Published in: on February 20, 2008 at 12:17 am Comments (3)

How to make Opor Ayam

Opor ayam ala Turi :

1.Turn on the stove

2. Steam the chicken in the pot

3.Drain the excess water

4.Pour the Opor Sauce

5.Stir in for 20 mins

OPOR SERVED…

and oh yes..

no 0.Buy Instant Opor Sauce from the supermarket….

hihihihihi

Published in: on December 10, 2007 at 7:22 pm Comments (0)

The wedding prep

THE WEDDING .. PREP J

Duh, kayanya dah lama beneeeeeeeeeeeer gag nulis yah J 

Terakhir kali nulis disini masih dalam taraf persiapan nikahan kemarin… Dulu, kalau ada temen yang mempersiapkan pernikahan , saya tidak terbayang seberapa ribetnya. Pernah ada temen yang mempersiapkan pernikahannya dengan wedding Organizer, waktu itu saya Cuma melongo aja, sambil berpikir “ nikah aja kok pake wedding organizer ya?”.

Nah

Giliran pernikahan saya… Tentu saya berniat mempersiapkan semuanya sendiri. Membuat jadwal pernikahan, memikirkan ornamen2, pernik2, membuat baju (ini favorit saya), sampe membayangkan lagu 2 sewaktu resepsi …. Dan saya dan ortu sepakat buat ngurus semua sendiri. WO? Duh, kaya kawinan artis aja!

Kepusingan mulai melanda waktu pertanyaan semakin banyak datang , dari ortu, saudara, tante dan keluarga then-calon-now-hubby. Misalnya tau2 ada pertanyaan : tema-nya apa?

“ Temanya apa?”

“uum, gold…” (diam sebentar)

“ iya, tapi temanya apa?”

“tema?”

Ummm, Gold bukan tema ya? Hehehee

Ternyata, saya baru sadar bahwa dalam pikiran keluarga calonku itu tiap pernikahan ada tema, misalnya, kupu2, bunga, atau lainnya.. Ini karena pernikahan kakak iparku waktu itu bertemakan kupu-kupu ungu dan gold.

Owwwwww

Saya bukan animal freak, jadi terpaksa putar otak deh . Ortu saya pun njeplak “gimana kalau temanya Burung merak aja, kan kita orang jawa timuran…(reok ponorogo ka nada burung meraknya toh)”

Ummm..

Tenang, si burung merak akhirnya gag dipakai , dan saya tetap stick dengan tema ala saya :

GOLD. Dan hijau sewaktu acara di rumah.

Period . hehehehe.

Kepusingan kedua baru melanda sewaktu saya baru SADAR bahwa kedua pihak ortu (mine and his) sepakat bakal menjalankan SELURUH RITUAL TRADISIONAL JAWA yang possible, mule dari pengajian, siraman, midodareni, akad nikah, temon, panggih, … baru resepsi….All in 2 days…

HUmmmm..

Dan bahwa ada seserahan dari masing2 pihak,

Dan perlu banyak kebaya untuk masing2 acara..

Dan perlu dukun manten.

Dan ada acara di rumah, which mean perlu tenda, gebyokan, catering sampai pawang hujan (seriously). (katanya org jawa itu kalo akad nikah di rumah)

Dan since we (both me and my mom) are very detail people… Semuanya kita harus pikirkan sampe detail.

Kepusingan ketiga melanda sewaktu kedua keluarga mulai rembukan untuk Acara.

Ginih, we all live long distance  from each other: saya&keluarga di Jakarta, my calon di Singapore, and his family di Surabaya. Dan karena kita akan pake acara jawa lengkap tentu, semua kudu koordinasi:

Warna kotak seserahan yang BEDA banget sama warna kamar pengantin, padahal kotak nya kudu dipajang di kamar pengantin.

Fotografi yang mesti match.

Acara yang mesti match time-schedule nya, gag boleh terlalu lama, gag boleh terlalu cepet (maklum, keluarga my hubby 90% tidak tinggal di Jakarta dan baru datang dr daerah hari H).

Jumlah list undangan yang terus bertambah….dan jumlah jatah undangan gue yang makin tiris karena mesti ‘menyokong’ undangan my hubby (makanya, jangan marah kalo diundangnya lisan yah :p ).

Ditambah lagi keluarga ‘his’ yang ternyata minta undangan  ajaib, misal untuk ‘manajer2 & anak buah suami adik-nya his mom’.

Umm, hello?

should I also invite ‘the husband of the sister of the wife of my deputy director’s son?’.

And did I mentioned my then-boyfriend-now-hubby is 1.5 hours flight away. Sweet huh?

Nah, disaat aku dah mulai mendekati hari H, mulai lah berhubungan dengan vendor2: Ada yang bolot BERAT. Ada yang melas, ada yang ‘melarikan diri’, sampai ada yang gag bisa dihubungin.

Dan disaat saya, yang anti WO tau2 nyeletuk “eum…. Apa mau pakai WO??” Semua melotot…

He he he he.

Akhirnya, kita tetep jalan tanpa WO kok, dan ternyata… sukses, alhamdullillah…

Dengan modal buku petunjuk yang saya ketik dan jiplak dari kawinan sepupu saya (tentu aja yang ngetik ulang bukan saya dong, kurang kerjaan kali) dan diedit sana sini oleh my bloved cousin, acara berlangsung sukses, aman dan TEPAT WAKTU.

Yah, ada saat sih dimana keluarga my-boyf terpaksa muter2 karena kecepatan berangkat ke acara midodareni… maklum, orang daerah ndak kebayang bahwa jalanan Jakarta bisa macet total dan mendadak sepi … (ya salah sendiri kecepetan hehehe).

Atau air siraman yang cuepet sekali datengnya alias ahead on schedule.

Dan masih ada kejutan lain, seperti :

Artis2 yang mendadak nongol dan PERFORM di resepsi.

Kaset langgam jawa untuk prosesi yang ketinggalan.

Kain ku yang ternyata kurang panjang hehehheehe.

And others.

But all and all, my preparation paid off. Tentunya, dengan bantuan SEMUA YANG KELUARGA (my aunties, my cousins, my uncle).

Juga beberapa temen yang siap sedia menjadi penerima seserahan *halah*, berseragam ria di resepsi hehhehe. I couldn’t have done it without you. THANQ YAH!!!

W.O? He he he.

Let’s just say I –and all the helpers- WE ALL, had become my own wedding W.O    J

Published in: on November 27, 2007 at 8:58 pm Comments (2)

Mencari kebaya, bikin tambah cinta :)

Akhirnya……hari itu mulai juga!!!!

Hehehehhe.

Hari yang gue tunggu, tapi juga gue hindarin.

Hari pertama mengurus pernikahan gue sendiri, bukan sodara atau temen.

Minggu-minggu pertama mengatur waktu buat liat2 vendor, dateng ke pameran dan yang pasti CARI BAHAN KEBAYA !!! hehehheheh kayanya ini yang paling diminatin ama CPW J

Cuman ternyata gak semudah itu.

Ngeliatin vendor, kalau kebanyakan jadi puyeng. Apalagi kalo dateng ke pameran. Semua ngaku value-for-money.

Belom lagi kalau vendor2 yang temen kita sendiri. Duh puyeng.. itu baru masalah nyari vendor. Dealnya…. lain lagi….

Ada yang jutek, ada yang baiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkk banget tp ada maunya, ada yang plintat plintut, macem macem.

Tadi baru vendor, sekarang soal lokasi, jam, tanggal and prosesi nikah.

Pihak ortu, pihak keluarga kita dan keluarga dia, DIJAMIN punya keinginan sendiri-sendiri. Sampai sekarang, CPW masih belum punya hak bicara deh , apalagi CPP (wong CPP gue ada di luar negeri…..).

Segitu bedanya, sampai gue kadang2 pusing sendiri : emang budaya Indonesia segitu –nya ya? Karena banyak banget kebudayaan yang beda banget ama yang gue tau, misalnya, keluarga CPP selama belum nikah gak boleh makan beras besan selama belum ijab kabul (baca: termasuk ditraktir, dll). Jadinya heboh lah waktu pas makan2 santai kemarin ortu gue mau bayar dan ternyata .. sudah dibayar oleh kelurga cowokku tanpa nanya2 ke ortu. Untung ortu gue tipe yang santai aja, cuman malunya itu lho, udah ampe kasir, eh disuruh duduk lagi. Hihihihih.

Contohnya lagi tentang ijab kabul. Ternyata menurut mitos jawa kuno, calon pengantin wanita itu gak boleh ngikutin. Alias tetep duduk di kamar. Dan itu tetp dianut ama keluarga cowokku. Gue nyaris pingsan pas dengernya. Lah, yang mau kawin

kan

gue? I think it is strange not to be invloved in my own wedding ceremony: P

Tapy anyway, setelah diskusi, aku jajni dihadirkan di upcara Ijab Kabul. Karena kalo enggak, mungkin gue ngancem bakal inisiatip ngambil dingklik and duduk di sebelah penghulu.  Hihihihi

Yang tadi baru vendor, upacara, belom nanti model  baju, undangan, tema ( keluarga calonku dah sibuk nyiapin tema, dan gue gak punya, hummmmm….. mungkin gue bisa kasih tema rhythm of the night dan ngundang DJ? Gubrakx.!!)

Cuman dengan adanya konflik konflik kecil and perbedaan perbedaan kaya gini, justru bikin kita bersyukur

“Ya Tuhan, terima kasih, yang berarti aku masih punya keluarga, dan yang berarti juga bahwa keluargaku turut merayakan dan merestui pernikahanku”

Gak sedikit loh temen2 atau kenalan deket saya yang gak sempet persiapkan pernikahan nya sendiri, mungkin karena terpaksa (MBA) atau mendadak (ada yang sakit), atau justru gak direstui ortunya sendiri (alias penganten kabur….).

Pastinya konflik konflik kecil and dadakan tadi bikin aku makin kompak ama calon suami, ya tho mas ya?  YA KAN??!!!! (lah kok ngomel juga….) en tentunya… makin cinta, ehm ehm :)

Published in: on June 15, 2007 at 12:37 am Comments (849)